Press "Enter" to skip to content

Kuliner di Jalur Mudik Pekalongan

Lucky Candra 0

Pekalongan adalah salah satu kota pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Pekalongan dikenal dengan julukan Kota Batik, karena batik Pekalongan memiliki corak yang khas dan variatif.

Kota Pekalongan masuk jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori crafts & folk art pada Desember 2014 dan memiliki city branding World’s City of Batik.

Ternyata selain batik, Pekalongan juga memiliki kuliner yang sangat menggugah selera, terutama bagi anda yang sedang dalam perjalanan mudik. Rasa lapar dan lelah pasti memaksa anda untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan sisa perjalanan. Jika anda sedang melintas di jalur Pekalongan ada beberapa kuliner yang bisa anda coba untuk makan siang, ataupun makan malam.

Nasi Megono

jatenglive.com

Nasi Megono terdiri atas nasi yang diatasnya diberikan cacahan nangka muda yang dicampur dengan parutan kelapa beserta bumbu – bumbu lainnya. Nasi Megono bisa disajikan dengan mendoan yaitu tempe tipis dan lebar yang di lumuri tepung dicampur daun bawang lalu digoreng setengah matang rasanya gurih dan nikmat.

Lokasi :

NASI MEGONO SEGO RAKYAT MBAK IBAH

Jl.Teratai No.81, Poncol, Pekalongan, Jawa Tengah 51122.

Pindang Tetel

nakita.grid.id

Pindang Tetel adalah makanan khas pekalongan yang berasal dari desa Ambokembang, Kedungwuni, Pekalongan. Meskipun bernama pindang tetel, kuliner yang satu ini lebih mirip dengan rawon, jika pada umumnya pindang berbahan dasar ikan, pindang kali ini terbuat dari tetelan daging iga sapi, bukan ikan pindang.

Campuran kluwek pada kuahnya membuat pindang ini lebih mirip rawon.makanan ini akan terasa lebih lezat jika dimakan bersama kerupuk pasit, atau kerupuk yang diolah (digoreng) dengan menggunakan pasir. Pindang tetel tidak cocok disajikan dengan kerupuk yang digoreng dengan minyak karena kenikmatan rasanya pasti akan berbeda.

Pada mulanya, masyarakat Ambokembang hendak memanfaatkan hasil bumi kluwek dari daerah mereka. Saat mereka memadukan kluwek dengan tempe dan tahu, rasa masakan yang dihasilnya kurang enak. Akhirnya mereka menggunakan daging sapi dan ternyata rasanya enak, terutama bila daging sapi dipotong kecil-kecil (bahasa Jawa: ditetel-tetel). Selanjutnya, masyarakat Ambokembang menyebutnya Pindang Tetel.

Lokasi :

WARUNG PINDANG TETEL BU NING

Jl. Urip Sumoharjo Gg. H. Palal No.133, Podosugih, Kec. Pekalongan Bar., Kota Pekalongan, Jawa Tengah 51113.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *